Sabtu, 28 April 2012

SIGOKH MAHKOTA ADAT LAMPUNG [BENTUK, MAKNA DAN FILOSOFI]

Oleh Diandra Natakembahang dan Nurwan Gawoh









 






Sigokh sebutan dalam bahasa Lampung dialek Api dan Siger sebutan dalam bahasa Lampung dialek Nyo memang sangat identik dengan Lampung. Dalam suku bangsa Lampung Sigokh merupakan suatu benda yang sangat penting, baik yang beradat Saibatin maupun yang beradat Pepadun. Sigokh adalah mahkota khas Lampung yang merupakan simbol keagungan Budaya Lampung yang dikenakan oleh Kebayan [Pengantin] dan Bangsawan Lampung. Sigokh dikenakan oleh Perempuan Lampung, sedangkan Sigokh yang dikenakan oleh Pria Lampung berarti juga melambangkan hirarki seseorang didalam Adat. Dalam Adat Saibatin, Sigokh pada Pria dikenakan oleh mereka yang beradoq Radin, Minak, Kimas dan Mas yang mempunyai bentuk yang berbedabeda, sedangkan bagi Bangsawan Lampung Saibatin Suttan juga para Raja dan Batin mengenakan mahkota yang disebut Tungkus yang masing masing juga mempunyai ciri yang berbeda. Sigokh dikenakan saat Tayuhan seperti Penikahan dan acara Adat lainnya. Bentuk Sigokh adalah merupakan manifestasi dari Garuda yang sedang mengepakkan sayapnya. 

Kini Sigokh bukan hanya digunakan sebagai mahkota pada acara adat Etnis Lampung namun juga telah berkembang menjadi Ikon berupa hiasan dan lambang kebanggaan Provinsi Lampung. Hal ini dapat dilihat seperti di gerbang Lampung, tepatnya di dekat pelabuhan Bakauheni telah dibangun sebuah menara berbentuk Sigokh dengan nama Menara Siger. Sigokh juga digunakan sebagai hiasan dan lambang pada tugu-tugu dan kantor-kantor pemerintahan dan perusahaan. Kemudian bebarapa tahun ini di kota Bandar Lampung, setiap bangunan seperti toko, ruko, pusat perbelanjaan dan setiap bangunan yang berada di jalan kota Bandar Lampung telah diwajibkan menggunakan hiasan Sigokh diatas pintu masuk atau diatas [atap] pada bangunannya.

Sang Bumi Ruwa Jurai adalah semboyan provinsi Lampung, dengan pengertian : “Di Tanah Lampung terdapat satu kesatuan dari dua adat yang berbeda, yaitu Lampung Pesisir dengan adat Saibatin dan Lampung Abung dengan adat Pepadun”. Namun ketika kita memperhatikan bentuk Sigokh dari masing-masing dari keduanya ternyata ada perbedaan antara Sigokh Saibatin dan Sigokh Pepadun. Hal  yang paling mencolok yaitu lekuk pada Sigokh, untuk yang beradat Saibatin, Sigokh yang digunakan memiliki lekuk berjumlah tujuh [Sigokh Lekuk Pitu] sedangkan untuk yang beradat Pepadun menggunakan Sigokh dengan lekuk berjumlah Sembilan [Siger Lekuk Siwo).

Karenanya dalam kesempatan ini kami coba menuliskan hipotesa kami yang diharapkan dapat  mencari titik temu dari perbedaan diantara keduanya:
    
                Sigokh Saibatin            

Siger Pepadun



 SIGOKH PADA MASYARAKAT ADAT SAIBATIN

Seperti yang dilihat pada gambar diatas bahwa Sigokh pada suku Lampung yang beradatkan Saibatin memiliki lekuk tujuh dan dengan hiasan batang/pohon Sekala pada masing masing lekuknya, ini memiki makna ada tujuh Adoq [Gelar] pada Masyarakat Adat Saibatin yaitu Suttan/Dalom/Pangeran [Kepaksian/Marga], Raja Jukuan/Depati, Batin, Radin, Minak, Kimas dan Mas/Itton. Adoq ini hanya dapat digunakan oleh keturunan lurus saja, dengan kata lain masih kental dengan nuansa kerajaan, dimana kalau bukan anak raja dia tidak berhak menggunakan Adoq Raja begitu juga dengan Adoq lainnya. Sedangkan bentuknya Sigokh Saibatin juga mirip dengan Rumah Gadang pada Kerajaan Pagaruyung seperti Istano Si Linduang Bulan, yaitu rumah pusaka dari keluarga besar ahli waris dari keturunan Daulat Yang Dipertuan Raja Pagaruyung dan juga Museum Adityawarman di daerah Minangkabau Sumatera Barat [lihat gambar dibawah]. 

Hal ini disebabkan karena Adat Budaya Lampung Saibatin mendapat pengaruh dari Kerajaan Pagaruyung, ini sangat berkaitan dengan sejarah berdirinya Paksi Pak Sekala Bekhak [Paksi Bejalan Di Way, Paksi Pernong, Paksi Nyerupa dan Paksi Belunguh], keempat Kepaksian ini berdiri setelah kedatangan Umpu Belunguh atau pada lima generasi sejak berdirinya ketiga Jurai yang lain. Kedatangan para Umpu ke Sekala Bekhak tidaklah bersamaan, baru pada masa kedatangan terakhir Umpu Belunguh ini Agama Islam menjadi Agama resmi di Sekala Bekhak. Paksi Pak Sekala Bekhak mengangkat saudara seorang Nabbai yang dikasihi yaitu  Buway Bulan beserta dengan Buway Benyata/Anak Mentuha di Luas. Dimana pada masa masuknya Islam di daerah Lampung pada masa kerajaan di tanah Sekala Bekhak, mendapat pengaruh dari Kerajaan Pagaruyung yang di sebarkan oleh Ratu Ngegalang Paksi. Selain itu banyak kesamaan antara adat Saibatin dengan adat Pagaruyung seperti pada saat melangsungkan pernikahan, tata cara dan alat yang digunakan banyak kemiripan. Walau memiliki lekuk tujuh yang ujungnya mirip dengan Rumah Gadang namun demikian pada setiap lekuk Sigokh dihiasi dengan batang Sekala.                  
                   







SIGER PADA MASYARAKAT ADAT PEPADUN
 
Siger Pepadun memiliki lekuk sembilan yang berarti ada Sembilan Marga yang bersatu membentuk Abung Siwo Megou. Ujung tengah dari Siger Pepadun membentuk kelopak buah Sekala, hal yang semakin menguatkan bahwa Sekala Bekhak Kuno merupakan cikal bakal Ulun Lampung, dan proses terbentuknya Abung Siwo Mego. merupakan penyebaran orang lampung dari dataran tinggi Sekala Bekhak di Gunung Pesagi. Ini dapat dilihat dari Tambo Paksi Bejalan Di Way bahwa Menang Pemuka Baginda adoq Ratu Di Puncak meninggalkan kerajaan Sekala Bekhak untuk mencari daerah baru bersama keluarganya. Menang Pemuka Baginda memiliki empat orang putra yaitu Unyi, Unyai, Subing dan Nuban yang merupakan keturunan Paksi Bejalan Di Way serta lima Marga lainnya yaitu Anak Tuha, Selagai, Beliyuk, Kunang dan Nyerupa yang merupakan keturunan dari tiga Kebuwayan lainnya sehingga menjadi Abung Siwo Mego.

Seiring dengan penyebaran penduduk dan berdirinya beberapa Kebuwayan maka yang menggunakan Adat Pepadun bukan hanya Abung melainkan juga oleh kebuwayan lain yang kemudian membentuk masyarakat adat sendiri, seperti Megou Pak Tulang Bawang [Buway Bulan, Buway Umpu, Buway Tegamoan Buway Aji], Pubian Telu Suku [Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi], serta Way Kanan Buway Lima [Buway Pemuka, Buway Bahuga, Buway Semenguk, Buway Baradatu, Buway Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur] dan Sungkay Bunga Mayang yang merupakan kesatuan adat terakhir setelah kedatangan keturunan Buway Bunga Mayang dari Komering.


     
METAMORFOSA SIGOKH
                                           



Gambar ini menampilkan sebuah Sigokh Tuha yang merupakan Sigokh yang digunakan pada era Hindu-Budha atau zaman Tumi [Sigokh pada gambar adalah salah satu Sigokh milik Saibatin Way Lima]. Sigokh semacam ini adalah merupakan bentuk Sigokh awal sebagaimana yang dikenakan pada era Sekala Bekhak Kuno. Metamorfosa Sigokh dapat dijabarkan sebagai lima lekuk pada era Sekala Bekhak Kuno atau era Hindu Budha kemudian tujuh lekuk pada Masyarakat Adat Saibatin, dalam hal ini termasuk Sigokh Melinting yang menambahkan aksen berupa rumbai yang membentuk cadar yang merupakan pengaruh Islam dari Kesultanan Banten dan Cirebon, namun sebelum berbentuk cadar, pada era Keratuan Pugung Sigokh jenis ini juga sudah memiliki rumbai. Metamorfosa selanjutnya adalah sembilan lekuk pada Masyarakat Adat Pepadun. Namun demikian sudah sejak awal batang Sekala telah dijadikan piranti hiasan pada Sigokh.     


KESIMPULAN

Demikianlah bahwa Sigokh adalah merupakan manifestasi dari Garuda yang sedang mengepakkan sayapnya. Sigokh dalam Adat Saibatin menampilkan Filosofi Batang Sekala pada hiasan diatas lima lekuknya, dalam hal ini Sigokh Saibatin juga menyerupai Rumah Gadang khas Minangkabau, tujuh lekuk Sigokh Saibatin melambangkan tujuh tingkatan hirarki dalam Adat Saibatin. Sementara Siger pada Adat Pepadun menampilkan Filosofi Buah Sekala diatas enam lekuknya, sembilan lekuk Siger Pepadun melambangkan sembilan Marga yang tergabung dalam Abung Siwou Megou. Bila diperhatikan lagi yang menjadikan perbedaan antara Sigokh Saibatin dan Siger Pepadun adalah pada lekukan yang berada ditengah, pada Siger Pepadun ada tambahan dua kelopak sekala sehingga jumlahnya menjadi Sembilan, dan hiasan buah sekala yang bertingkat [lihat gambar].    








Sigokh Lampung jelas menggambarkan tentang Sekala. Ini dapat dilihat dari Sigokh Saibatin yang terdapat batang/pohon Sekala diatas lekukannya, sedangkan Siger Pepadun diatas lekukan yang berada ditengah terdapat dua kelopak buah sekala dan buah sekala yang bertingkat. Hal yang semakin menjelaskan dan membuktikan bahwa Ulun Lampung berasal dari dataran tinggi Sekala Bekhak dilereng Gunung Pesagi.

                                                      

6 komentar:

  1. mantap...
    tabik pai puakhi..
    ketukhunan anjak buay bulan kan buay turgak khik buay menyata.
    mingan kodo, ngilu info lengkap asal usul na BUAY TUKHGAK.(hirarki-na).
    tekhus sai lagi puakhi, setiap uwat adat menapi jukhai BUAY BULAN mak ngedok..??
    (kah uwat paksi pak sekala bekhak)
    tekhima kasih, puakhi..

    BalasHapus
  2. kik menurut pendapatku, lain garuda bang, kintu di kham lampung dikenal ikkah " Kenui ", atau Elang,,
    seno juga kisah Kenui pemakan manusia yang hidup didaerah ranau ( zaman dahulu ) diceritakan oleh Pun Nyerupa dan Pak Marwansyah Warganegara.

    BalasHapus
  3. Mamak Hendrik: Lain mak ngedok Mamak, sinji ulih keturunan jak Buway Bulan mak ngedok lagi sai wat di Tanoh Unggak, jadi sai tinggal ikah berupa situs2 peninggalanni gawoh [di Way Nekhima]. Sementara keturunan jak Paksi Pak khik Buway Benyata [Buway Anak Mentuha~Luas] keturunanni lurusni pagun wat di Unggak ji. Sunyin keturunan jak Putri Bulan khadu menyebar mit Krui, Semaka khik Tulang Bawang, kik mak salah catatan khik silsilah sai lengkap wat di Jurai Bulan sai wat di Krui khik Menggala...

    Novan: Nekhima juga masukanni Van, mungkin kanah dapok dishare luwot informasi2ni ngin data kham semakin komprehensif. Kidang kik jak data sai kupandai, di Lampung tumbai sangon wat Garuda sai takkop diunggak "Kayu Hakha" [Kemungkinan letakni di Kuta Hakha~Cenggikhing], untuk ngusekh Garuda ganas sinji, sunyin perwakilan Buway bermufakat untuk nuwakh Kayu Hakha ji. Jadi kesimpulanni Garuda sangon wat di mitologi kham Lampung.

    BalasHapus
  4. Tabik pun senabik tabik jama puakhi sikam Diandra, sejalan jama komentar puakhi sikam hendri Semaka, kantu pusekam wat tulisan mengenai keturunan Buay Turgak sikam Kilu di informasikon mit Email sikam irvanptun@yahoo.com, sikam anjak Buay Turgak di Tiyuh Labuhanratu ngeharapkon temon informasi sina, sikam munih kak ghadu nyepok tulisan sina di Pun Dalom Buay Turgak Kuta Agung maupun puakhi2 sikam di abung, sementara siji dilom catatan sikam Buay Menyata dan Buay Turgak anak keturunan Putri Bulan (anak Bai paksi tiyan pak), terimakasih puakhi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Almar
      haaa...haa..
      jejama tejajau kudo kham jak Buay turgak ji, puakhi..? JUKHAI BULAN.
      sai pasti, sikindua kecewa nihan katti TURGAK CUP di gedung kham (di menggala kota agung) khadu mak lagi.
      padahal ano salah satu tayuh mun kham haga pujama se unyin ni anak makhga anjak buay tukhgak (buay menyata).
      payu, puakhi.. kham jejama butetanya puhaguk puakhi2 anjak Skala brak.
      hinno pai say nyani kham busukukh.
      TABIKPUUUN.

      Hapus