Sabtu, 28 April 2012

[[SUKU LAMPUNG]] TAMBO BUWAY BENYATA DI LUAS [TARIKH SEKALA BEKHAK]


Diposting Oleh Diandra Natakembahang


 
Sebermula diceritakan ialah semenjak zaman Nabi Muhammad SAW pada lebih kurang abad ke 6 [enam] Masehi, beliau mempunyai sahabat karib yang rapat, yang boleh dibilang makan sama sepiring, tidur sama sebantal ialah:
1.      Sayidina Abu Bakar
2.      Sayidina Umar
3.      Sayidina Ali

Inilah sahabat-sahabat beliau, maka diriwayatkan Sayidina Usman memangku tugas giliran menjadi Khalifah atau Raja yang bertempat di Tanah Arab, beliau ini berputra seorang laki-laki yang cakap, pantas, cerdik pandai bernama La Laula yang patut menjadi pemimpin. Maka disuatu tempo terbitlah pikirannya akan turun dibawah angin untuk mengembangkan Agama Islam dan memperpanjang Zuriatnya, yang kini ternyata menjadi sejarahnya sehingga diladeninyalah tekad cita-cita yang tercantum didalam sanubarinya.

Dikisahkan berkemaslah La Laula[1] tersebut sekeluarga beserta 6 orang putranya dan diikuti oleh beberapa orang yang suka rela mengikut. Mereka berangkat berlayar dengan mempergunakan sebuah Bantera yaitu perahu Gangsa yang tiada tentu arahnya. Setelah beberapa hari lamanya mereka berlayar singgahlah mereka disuatu tempat yang bernama Bandar Rihim yakni bandarnya si Rahim yang umumnya sekarang disebut Bandar Rum, mereka diajak akan tinggal disini bersama-sama, tetapi mereka menolak kerena akan meneruskan perjalanan, beliau hanya minta peringatan atau tanda mata, dan Rahim memberi:
1.      Sebuah Meriam
2.      Sebuah Piring Panjang
3.      Tiga Buah Mangkuk Batu
4.      Satu Piring Sambal
5.      Sebuah Piring Bertutup Batu

Lantas mereka se-bahtera itu meneruskan perjalanan mereka, beberapa hari kemudian mereka berlabuh di Bandar Cina. Di Cina diajak pula supaya mereka tinggal menetap disini, tetapi mereka menolak hanya minta peringatan pula dari Cina. Dari Cina mereka dianugrahi sebuah kendi batu, lantas meneruskan perjalanan ke sebelah selatan. Setelah sekian lama berlayar tibalah mereka di Pantai Tanah Banten, La Laula bersama rombongan menemui Sultan Banten. 

Sultan Banten mengajak mereka untuk tinggal disini tetapi mereka menolak, hanya minta peringatan/tanda mata dari sang Sultan. Sultan Banten memberi 3 [tiga] buah tombak besi dan salah satu diantaranya pakai mata-mata serta sebilah keris pusaka. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka kesebelah utara sehingga tibalah mereka di Pagaruyung. Mereka sebahtera tersebut pergi untuk mendapat/menemui Raja Pagaruyung dan sang Raja membujuk mereka tetap tinggal disini tetapi ditolak, namun La Laula meminta tanda mata dan Raja mengabulkan permintaan tersebut, beliau menganugerahi 2 [dua] buah Tameng untuk menangkis senjata musuh yang terbuat dari kulit dan sebuah dari rotan yang dianyam, 2 [dua] buah peci yang terbuat dari Belulang, sebilah Keris pusaka kecil serta sebilah Pedang kecil.

Selanjutnya bahtera itu melanjutkan perjalanan mereka kearah selatan lagi beberapa hari lamanya bertemulah dengan Cukuh yakni batu timbul diatas permukaan laut maka berhentilah mereka disini dan perahu tersebut ditambatkan pada akar kayu kecil-kecil. Tiada berapa jauh dari pantai La Laula naik keatas cukuh batu tersebut sambil berkata Cukuh, sampai sekarang masih ada. Beliau kemudian lalu ia naik dan meninjau keadaan disini apakah ada tanah yang agak luas apa tidak, rupanya betul-betul ada tanah yang lebar lalu didapatinya dan naik keatas daratan serta turun dan mendaki bukit, dari bukit ini beliau meninjau kiranya benar ada tanah yang luas dan dipandangnya. 

Pandangannya terlintas kepada sebuah bukit, lalu didapatinya bukit ini hingga sampai kepuncaknya maka nyata benar puncak bukit ini Persegi Empat, dari sinilah ia dinamakan sebagai Bukit Pesagi. Setelah mengamati keadaan dipuncak bukit ini maka sejurus dilihatnya seorang laki-laki yang rupanya sudah lebih dahulu dari La Laula maka bertemulah mereka berdua dan bersalam-salaman. Umpu ini berkata kepada La Laula syukurlah anda datang kesini, saya memang sudah lama menunggu-nunggu teman untuk bersama-sama memiliki tanah ini, jawab La Laula baiklah lalu mereka berdua mufakat dan berkeputusan akan dibagi, sambil berdiri kearah matahari mati dengan menggunakan acungan tangan sambil berdiri Umpu tersebut membagi tanah itu, sebelah kanan saya yang menguasai dan sebelah kiri anda yang menguasai katanya kepada La Laula sampai dihari kemudian.

Setelah segala pembicaraan selesai turunlah mereka, kiranya yang seorang Umpu ini bernama Rokian, namanya yang umumnya sekarang disebut Puyang Rakihan[2] sebutannya.  La Laula turun pula dari puncak bukit ini kearah kiri dengan maksud akan memeriksa tanah dan keadaannya yang kelihatannya daratan rendah dan luas agaknya, pandangannya tidak salah tanahnya baik, lebar dan terlihat banyak semacam pohon pisang rupanya karena daunnya lebar-lebar dan panjang, setelah diamati rupanya bukan pisang melainkan Sekala[3] yang sangat lebar dan luas. Dari sinilah tanah [daerah] ini dinamakan Sekala Bekhak, tetapi dalam peristiwa ini ia berjumpa dengan Sirih yang tidak Berjunjungan [Cambai Mak Bejunjungan] semacam kayu saja rupanya tetapi batangnya semacam perak rupanya, daunnya serupa emas keliatannya. La Laula bingung dan sejenak terpakur sebab diduga tentu ada yang mempunyai/memiliki benda antik itu sehingga mereka mundur sedikit untuk terlebih dahulu mengamatinya, setelah diamati kiranya benar-benar ada orangnya yaitu orang Tumi yang beragama Budha.

La Laula waspada dan bersiap dalam hati karena ia yakin ini adalah musuh yang akan menghambat maksudnya yang akan mengakibatkan bentrokan dan pertempuran nantinya, maka La Laula pulang kembali mendapatkan perahu Gangsa beserta rombongan, untuk bersiap-siap dan membawa teman-temannya semua serta membawa semua peralatan/perkakas/senjata yang diperoleh dalam perjalanan guna menghadapi musuh tersebut yaitu orang Tumi dan Budha. Mereka naik ke gunung mendapatkan musuh dengan maksud akan mengusirnya sehingga terjadilah suatu pertempuran yang diketuai oleh La Laula, dalam pertempuran tersebut rombongan La Laula menggunakan senjata atau pusaka yang mereka dapatkan dalam perjalanan seperti: keris, pedang, tombak, meriam picitan, tameng/penangkis dan sebagainya. Mujur bagi mereka mendapat kemenangan, sehingga penduduk/musuh bercerai berai dan ahirnya mereka menduduki wilayah ini. Namun demikian Sirih [cambai] yang terlihat tadi ikut hilang agaknya dibawa oleh orang Tumi dan Budha itu. Maka wilayah/tanah ini dikuasai oleh mereka anak beranak dengan tenang dan aman dan akhirnya tanah bumi dan segenap pusaka/perkakas yang mereka miliki diserahkan oleh La Laula kepada 6 [enam] orang puterannya dan La Laula akan pulang kembali. Namun putra sulungnya tidak mau tinggal disini dia akan mengikuti orang tuanya, maka tanah bumi serta semua warisan diserahkan oleh La Laula kepada 5 lima] orang puteranya yang lain.

Sebuah rumah kediaman bagi ke 5 [lima] orang anaknya ini diberi nama Madras Gedung Suani yang didirikan di Sekala Bekhak, lama kelamaan mereka tinggal disini dengan rukun dan damai bersama-sama dengan hamba rakyatnya. Pada akhirnya 3 [tiga] orang diantara mereka akan pindah karena merasa kurang senang/tidak betah lagi tinggal disini mereka adalah Sitambakura, Sipetar dan Sikumabar. Berangkatlah mereka bertiga kearah matahari hidup [terbit] dan yang tinggal 2 [dua] orang yaitu Benyata dan Pernong. Tidak lama kemudian datanglah seorang laki-laki kesini dengan maksud akan mufakat dengan Benyata dan Pernong, beliau ini mengaku Putra Raja Pagaruyung[4] berangkat dari negerinya dengan Jalan Di Air [Jalan Di Way] kemudian berdiam dan menetap pula disini bersama-sama dengan Benyata dan Pernong. Tidak lama berselang datang pula 2 [dua] orang yang bernama Ratu Berdarah Putih dan Karmong dengan maksud ingin mufakat untuk bersama sama tinggal  dan berdiam disini yang diterima dengan senang hati.
 
Mengingat bahwa mereka sudah ramai dan banyak, hidup berdampingan dengan rukun dan damai untuk sekian lama, tetapi hukum-hukum dan adat belum ada karena tidak ada yang mengaturnya walau ada diantara mereka yang sudah pandai namun mereka khawatir akan tetap terjadi sesuatu yang tidak baik nantinya. Untuk menghindari hal tersebut maka mereka mengadakan musyawarah untuk mencari jalan terbaik guna mengatur dan menyusun hukum atau adat yang akan dipakai. Musyawarahlah mereka mengambil kesimpulan akan mohon pertolongan dari Raja Pagaruyung, maka diutuslah seorang diantara mereka untuk menemui Raja Pagaruyung untuk menyampaikan permohonan guna membantu mereka. Maka Raja Pagaruyung tidak keberatan mengabulkan permintaan tersebut dan beliau mengirimkan seorang puteranya yang bernama Lampung untuk tinggal disini juga.

Oleh Lampung disusunlah dan mereka diharuskan terlebih dahulu melaksanakan Begawi [semacam pesta adat] yang pada pelaksanaannya akan memotong 2 [dua] ekor kerbau yaitu seekor kerbau berwarna hitam dan putih bertanduk sebelah, dan seekor berwarna putih dan hitam bertanduk sebelah [satu]. Inilah piranti yang akan digunakan dalam pegawian serta ditambah dengan peralatan atau kebutuhan kebutuhan yang lain, setelah cukup maka dilangsungkan pegawian itu dan pada saat inilah mereka menyusun hukum atau adat dan semua peraturan yang diperlukan serta pembagian tanah/wilayah.

Setelah adat tersusun maka La Laula dan seorang putra sulungnya berangkat menuju [mendapatkan] perahu Gangsa yang tertambat di Cukuh dahulu. Setelah tiba disana ia sangat terkejut karena menemukan sebagian rombongan yang tinggal di perahu Gangsa itu semuanya sakit bahkan ada diantaranya yang telah meninggal dunia. La Laula bertanya dan mereka pun bercerita bahwa mereka melihat sebuah Nangka yang besar dan bagus timbul didekat air dekat bahtera ini dan mereka sangat berselera untuk memakannya, sehingga dimakanlah nangka tersebut namun setelah makan buah itu semuanya mabok rupanya buah nangka tersebut beracun. Kemudian La Laula mengatakan bahwa itu adalah racun tidak boleh dimakan melainkan sekarang yang harus dimakan adalah kulit atau batangnya itu yang menjadi obat [penawar racun].  Maka dimakanlah oleh mereka seperti apa yang diperintahkan oleh La Laula, setelah mereka makan batang nangka itu mereka segar waras kembali rupanya benar bahwa batangnya sebagai obat atau penawar.

Singkat cerita bahwa perahu Gangsa itu tertambat pada akar pohon nangka tersebut, tetapi pohon nangka itu terbalik [jurak], cabang, ranting dan daunnya kebawah sedangkan batang dan akarnya keatas. Diperintahkan oleh La Laula kepada mereka supaya batang nangka itu dibuat Pepadin yang nantinya dapat digunakan sebagai azimat dan pusaka juga merupakan zuriat [sejarah] dikemudian hari maka segera dilaksanakan oleh mereka dan pada umumnya sekarang disebut Pepadun.

Setelah selesai beliau memberikan petuah dan amanat kepada 5 [lima] orang puteranya, maka La Laula bersama putra sulungnya bernama Laruk akan segera pulang dengan menggunakan perahu Gangsanya. perlu pula kita ketahui bahwa kedatangan beliau dahulu menginjakkan kaki kanannya terlebih dahulu menghadap matahari hidup [terbit] dan sekarang beliau akan pulang menginjakkan kaki kirinya sambil menghadap matahari mati [arah kiblat] sambil berkata perhentian atau kesudahannya tapakku dibawah angin maka berangkatlah beliau beserta putera sulungnya dan rombongannya.

Kisah Kelima Orang Putra La Laula Yang Tinggal; Setelah kepergian Orang Tua mereka, kemudian mereka melaksanakan apa-apa yang diamanatkan [diperintahkan] kepada mereka yaitu mengambil dan membuat batang nangka itu menjadi Pepadin [Pepadun] dengan lalu kemudian dibawa mereka ke Sekala Bekhak dibuat berbentuk perahu seperti yang diperintahkan La Laula. Disaat mereka mengangkat pohon nangka itu untuk dibuat menjadi pepadun ternyata dahannya terdiri dari dua macam dahan, yang satu berupa dahan kayu nangka sedangkan yang satu lagi berupa sebukau, yang digunakan oleh mereka sebagai penawar segala bisa atau racun dan sebagai pusaka asli mereka.
Adapun nama nama putra La Laula yang tinggal di bumi Sekala Bekhak adalah sebagai berikut:
1.      Benyata
2.      Pernong
3.      Sitambakura
4.      Sipetar
5.      Sikumabar

Pembagian Tanah dan Daerah di wilayah Sekala Bekhak adalah dengan cara sebagai berikut; Lampung [Putera Raja Pagaruyung] menyusun para Umpu yang mendapatkan bagian, dan Benyata ditugaskan untuk membagi wilayah dengan 4 [empat] orang saksi yaitu dari Jalan Di Way, Ratu Berdarah Putih, Pernong dan Karmong secara bergiliran.
1.      Giliran dari Jalan Di Way disaksikan oleh Ratu Berdarah Putih, Pernong dan Karmong
2.      Giliran dari Ratu Berdarah Putih disaksikan oleh Jalan Di Way, Pernong dan Karmong
3.      Giliran dari Pernong disaksikan oleh Jalan Di Way, Ratu Berdarah Putih dan Karmong
4.      Giliran dari Karmong disaksikan oleh Jalan Di Way, Ratu Berdarah Putih dan Pernong

Adapun batas batas wilayahnya adalah sebagai berikut:
1.      Wilayah Jalan Di Way dari Kayu Kekhinjing Kabehuk sampai di Watos
2.      Wilayah Ratu Berdarah Putih dari Watos sampai Tampak Siring Sukau
3.      Wilayah Pernong mulai dari Siring Teba sampai Kayu Kekhinjing Kabehuk
4.      Wilayah Karmong mulai dari Siring Teba sampai di Way Handak
5.      Wilayah Benyata mulai dari Way Handak sampai di Pondok Puar Biding Kebau [Dwikora]
6.      Wilayah bagian untuk Lampung yaitu mulai dari Pondok Puar Biding Kebau sampai arah matahari hidup [terbit].

Kisah putera Raja Pagaruyung yang bernama Lampung; Disaat mereka melangsungkan pegawian yaitu menyusun adat, beliau diberi gelar Ratu Ngegalang Paksi. Setelah segala urusan mereka selesai, baik menyusun Hukum Adat dan Pembagian Wilayah dari Sekala Bekhak ini mereka berpisah dan Lampung menetap di Terbanggi. Demikianlah Tarikh Sekala Bekhak ini untuk untuk sama sama diketahui anak turunan hingga hari penghabisan.

Note:
1.  Nama dari La Laula adalah Syech Aminullah Ibrahim, beliau dimakamkan ditepi Way Manula yang lebih dikenal dengan Keramat Way Manula di Lemong Krui.
2.      Puyang Rakian atau yang sering disebut Puyang Mena Tepik adalah sisilah ke 5 [lima] dari Paksi Buway Bejalan Di Way, keramat Puyang Rakian terdapat di  Kuta Hakha Umbul Limau, Puncak Sukarami.
3.   Sekala adalah tumbuhan sejenis Honje atau Kecombrang. Sekala Bekhak bermakna Sekala yang banyak dan luas, tumbuhan ini banyak terdapat di lereng Gunung Pesagi.
4.      Belasa Kepampang [Nangka Bercabang] dahannya terdiri dari dua macam, satu berupa dahan kayu Nangka sedangkan yang satu lagi berupa Sebukau. Belasa Kepampang situsnya terdapat di Way Nekhima. Pepadun yang dibuat dari Belasa Kepampang adalah Pusaka Paksi Pak yang awalnya disimpan oleh keturunan Umpu Benyata, namun saat ini disimpan di Lamban Gedung Paksi Belunguh.
5.  Cambai Mak Bejunjungan [Sirih Tanpa Junjungan] diriwayatkan tumbuh diatas Batu Selelagok menjadi Pusaka Paksi Bejalan Di Way Sekala Bekhak. Situs Cambai Mak Bejunjungan terdapat di Teratas Kembahang.




[[SUKU LAMPUNG]] TAMBO PAKSI BUWAY BELUNGUH TAMBO UMPU KUNING PAKSI BUWAY BELUNGUH


Diposting Oleh Diandra Natakembahang




Bermula  diriwayatkan,  adapun  yang  menjadi  Raja dimasa ini  memerintah Negeri Kenali sekarang ialah Ranji Pasai bertempat di Bernasi. Raja ini serta anak rakyatnya memeluk Agama Budha, menyembah  patung patung  dan  kayu kayu  besar  yang diperbuat oleh  nenek moyang mereka.

Dimasa ini datang seorang laki laki bernama Umpu Belunguh. Adapun Umpu Belunguh ini datangnya dari Madinah di Tanah Arab, dan beliau ini  sudah  pernah ketanah  Setambul dan  Bagdat. Dari  Madinah  beliau  ini pergi ke Hadramaut, dan   dari   Hadramaut   tidak   diketahui   bagaimana   dan   jalan   apa  maka  Umpu Belunguh ini sampai ke Pagar Ruyung [Sumatra Barat].

Maksud perjalanan Umpu Belunguh  ini, ialah akan mengembangkan Agama Allah yaitu   Agama Islam.    Sesampainya   beliau   ini   di   Pagar   Ruyung   didapatinya   orang-orang Pagar Ruyung sudah memeluk Agama  Islam. Setelah beberapa lama beliau  berdiam  di  Pagar  Ruyung, maka beliau ini  meneruskan  perjalanan  akan mengembangkan agama Islam bersama 7 orang hulu balang pemberian Raja Pagar  Ruyung  untuk menjadi kawan dan pengikutnya. 

Mereka  ini  berjalanlah menyisir pesisir arah Batanghari Musi sampai kemudian sampailah ke Liba  Hadji. Liba Hadji ini ialah negeri tempat kedudukan Poyang Rakian, yang menjadi raja duduk memerintah dimasa ini. Umpu  Belunguh  dan   hulubalang hulubalangnya   pergi   mendapatkan   Poyang Rakian  dan   menceriterakan   sebagaimana   maksud   perjalanannya   ialah   akan mengembangkan  Agama Islam. Poyang  Rakian  serta rakyat-rakyatnya dimasa ini boleh dibilang sudah memeluk Agama Islam. Beberapa  lama  Umpu  Belunguh  serta  pengiring-pengiringnya   tinggal   di   Liba Haji  ini  dan  pada  suatu  ketika  beliau  ini  mohon  izin  pada Poyang Rakian  akan meneruskan perjalanan, maksud beliau ini dikabulkan oleh Poyang Rakian .

Umpu   Belunguh   bersama   hulubalang-hulubalangnya  berjalanlah  dan   sampai pula   pada  satu  dusun  jang  bernama Subik  dimarga  Ranau   sekarang.  Beliau tinggal   menumpang   pada   raja   yang   berkuasa  disini  ialah   Umpu   Sehujan. Umpu  Belunguh  serta   pengiring pengiringya   tinggal   disini  beberapa  lamanya serta  akan  mengembangkan  Agama Allah, tetapi orang-orang yang diam di Subik ini  serta  rajanya  juga  sudah memeluk Agama Allah. 

Dari Umpu Sehujan  ini, Umpu  Belunguh  mendapat  keterangan  bahwa  di Bernasi  orang orang  serta  rajanya  belum beragama Islam dan sekarang masih menyembah batang batang kayu dan patung patung.  Umpu  Belunguh  menerangkan  maksudnya  pada  Umpu  Sehujan  akan meneruskan  perjalanan.  Oleh  karena  Umpu Sehujan sangat sayang serta percaya pada Umpu Belunguh, maka Umpu Sehujan ini bermaksud  benar  akan  berangkat bersama-sama  dengan  Umpu  Belunguh.   Setelah  dicari saat  yang  baik  sebagai kepercayaan raja raja dimasa ini, maka  dikumpulkan  beberapa  hulubalang hulubalang Umpu Sehujan serta mereka ini mulai berangkat meneruskan perjalanan menuju arah  Bernasi. 

Mereka mereka  ini   sampai   di  Sukau, terus  ke Kembahang, terus  ke Hanibung [Batu Bekhak]  dan  terus  ke Bernasi.  Sepanjang  perjalanan yang  dilalui   oleh   mereka mereka   ini   kebanyakan   sudah  juga  mengenal  serta  memeluk  agama  Allah.  Sesampainya  mereka  ini  di  Bernasi,  maka pergilah Umpu  Belunguh  serta  Umpu  Sehujan  dan  pengiring pengiringnya mendapatkan serta  memperkenalkan  diri  pada  raja  yang  berkuasa   disini, ialah  Ranji  Pasai [Umpu Sekarmong] sebagai yang telah diceriterakan diawal sekali. Umpu Belunguh dan Umpu Sehujan serta pengiring-pengiringnya memperkenalkan diri kepada Raja Ranji Pasai, serta tinggal menumpang pada raja ini beberapa lamanya. Akan tetapi maksud  kedatangan Umpu Belunguh serta pengiring pengiringnya belumlah diceritakan pada raja ini.

Setelah  lama  berkenalan  Umpu Belunguh memohonkan satu permintaan pada Raja Ranji Pasai, akan  menjadi  tanda mata  persahabatan, ialah  beliau  minta  sepotong tanah  akan  tempatnya  mendirikan  rumah. Permintaan ini dikabulkan Raja dengan segala senang hati, serta dikasih baginda sepotong tanah bernama Sangawikh. Disinilah  Umpu  Belunguh  serta pengiringnya  mendirikan  sebuah  rumah  dengan dibantu  oleh  rakyat rakyat   Raja Ranji Pasai.   

Setelah    rumah   itu   selesai   dan ditunggui oleh Umpu Belunguh serta pengiring-pengiringnya, maka mulailah Umpu Belunguh   menjalankan   maksudnya   dibantu    oleh   Umpu    Sehujan   yang   akan  mengembangkan   Agama Islam. Mula mula   Umpu   Belunguh   mengembangkan agama ini  ialah  pada   rakya rakyat  Raja,  dan  banyaklah   diantara  rakyat-rakyat raja Ranji Pasai  yang  mengikut  serta  sangat percaya pada agama yang dikembangkan oleh Umpu Belunguh.

Hampir kira kira setengah rakyat Raja Ranji  Pasai  yang sudah menurut agama Allah. Pada  suatu   hari  Umpu  Belunguh  pergi   mendapatkan  Raja  Ranji  Pasai   dengan maksud  mencoba akan  mengislamkan  raja  ini.  Setelah   beberapa  bersoal  jawab  dengan  raja  ini, maka  Umpu  Belunguh  dapat   keputusan   dari   raja   Ranji Pasai bahwa beliau ini tiada mau menurut agama Umpu Belunguh, dan raja ini tiada mau mengubah ubah agama nenek moyangnya dahulu.

Umpu  Belunguh  ini  seorang  ulama  besar [alim ulama]  dan  setengah orang mengatakan  bahwa beliau ini  seorang  keramat.   Beliau  ini  tiada  mudah putus  asa  serta  keras kemaun. Beliau minta izin pada raja akan pulang ke rumahnya di Sangawikh. berulang-ulang Umpu  Belunguh  datang  mendapatkan raja  dengan  maksud  akan mengislamkan raja ini, tetapi raja sangat  berkeras  tiada  mau  menurut. Umpu Belunguh mendapat ancaman dari raja akan  diusir  dari  Sangawikh, dan  manakala tiada mau bisa jadi akan diusir dengan kekerasan.

Umpu Belunguh  serta  Umpu  Sehujan dan  sekalian  rakyat rakyatnya  yang  sudah dibawah pengaruhnya, tiada bercemas hati mendengar ancaman dari raja ini, melainkan  dengan sabar dijalankan  beliau juga  maksudnya pada  sekalian  rakyat rakyat yang  belum  mau  menurut.  Ancaman ancaman  raja  pada  Umpu  Belunguh  serta pengiring pengiringnya diceriterakan beliau pada Umpu Sehujan dan pada sekalian orang orang yang sudah mengikutinya.

Mendengar ancaman raja ini maka  panaslah hati  sekalian  rakyat Umpu Belunguh dan  diwaktu  ini  banyaklah  patung patung  dan berhala berhala yang dirusak oleh rakyat raja yang sudah menurut Umpu Belunguh. Hal ini diketahui raja,  dengan  sangat  murkanya  baginda  mengumpulkan  hulubalang hulubalang serta rakyat rakyat akan mengusir Umpu Belunguh dengan pengiring-pengiringnya.  Tetapi  tatkala  diketahui  raja bahwa hampir  semua  rakyatnya  sudah ingkar dari padanya dan sudah  dibawah  pengaruh Umpu  Belunguh,  maka rajapun masgullah hatinya serta timbullah takut beliau akan  mengusir  Umpu  Belunguh dari Sangawikh.

Oleh karena sangat  masgulnya hati raja ini,  terhadap  Umpu Belunguh,  Maka  raja ini pindah diistana beliau di Jerambai [Bedudu]. Setelah diketahui oleh Umpu Belunguh bahwa raja sudah pindah ke Jerambai, maka datanglah Umpu Belunguh mendapatkan raja itu serta akan mengislamkan beliau. Raja ini bukannya mau menurut malahan dengan sangat marahnya diusirnya Umpu Belunguh dari istananya. Umpu Belunguh menceriterakan halnya dari diusir raja itu pada sekalian pengikutnya. Dengan tidak dapat disabarkan lagi, serta dengan kepanasan hati maka berangkatlah sekalian rakyat Umpu Belunguh serta Umpu Sehujan ke Jerambai cukup dengan alat senjatanya dengan maksud akan memerangi raja Ranji Pasai.

Setelah dilihat Raja akan pengikut pengikut Umpu Belunguh itu datang dengan alat senjatanya, maka raja menyiapkan pula rakyatnya seberapa yang ada akan melawan rakyat Umpu Belunguh. Diwaktu ini terjadilah peperangan antara rakyat Raja Ranji Pasai dengan rakyat Umpu Belunguh. Oleh karena tiada tertahan  oleh rakyat  Raja Ranji Pasai akan  serangan dari rakyat Umpu Belunguh, maka rakyat raja  habis  lari dan pecah  belah, serta raja ini lari pula ke Gunung Pesagi. Akan ceriteranya raja Ranji  Pasai ini tiada  diketahui lagi dan kata setengah keterangan orang beliau mati.

Oleh karena Umpu Belunguh  telah  mendapat kemenangan dalam  peperangan  ini dan  Bernasi  tiada  beraja   lagi,  maka   Umpu  Belunguh  dengan  rakyat rakyatnya  menduduki Bernasi. Atas kemauan  serta  pilihan  dari  sekalian  rakyat  maka  Umpu Belunguh  diangkat  menjadi  Raja  di  Bernasi.  Beliau  ini   terus  juga  menjalankan maksudnya mengembangkan  Agama Islam  dengan  leluasa  serta  tiada  mendapat  gangguan gangguan lagi.

Umpu Belunguh disini tiada beristeri dan tiada pula beranak, maka diangkat beliau 7 [tujuh] orang kesayangannya menjadi anak yaitu:
1.      Beringin Muda, asal keturunan Perwatin Tanjung sekarang.
2.      Tatak, asal keturunan Yakkub Ginting.
3.      Tatau, asal keturunan Raja Pemuka di Gunung Kemala.         
4.      Jaga, asal keturunan Batin Tarja di Negeri Canda.         
5.      Kuning, asal keturunan Batin Parsi.
6.      Mandan, asal keturunan Raja Mulia di Kota Karang.         
7.      Sindi, asal keturunan Pesirah Kenali.         
Masing masing  mereka  yang 7 [tujuh] ini  ada  mempunyai  surat surat  serta  keterangan keterangan dari keturunan keturunan mereka. Dari ke 7 [tujuh] anak  angkatnya  Umpu  Belunguh ini, maka  anaknya yang ke 5 yaitu Kuning didudukkan beliau menjadi raja dimasa ini, menggantikan beliau. Setelah   kuning   duduk   menjadi  raja,  pada  suatu  hari  Umpu  Belunguh  sedang berjalan jalan melihat tamasya alam, maka kata setengah riwayat diwaktu itu Umpu Belunguh hilang, kemana perginya wallahualam seorangpun tiada mengetahui.


Tersusun di Bumi Agung 20 Februari 1939



Batin Parsi [keturunan Umpu Kuning]